Indonesia Darurat Emisi Karbon, Siapa yang Harus Bertindak?
Oleh Beta Kurniawati
Sebagai Negara berkembang indonesia saat ini sedang sibuk membangun industri. Banyak industri yang didirikan mulai dari industri berskala nasional hingga internasional. Untuk memenuhi kebutuhan teknologi industri, indonesia masih mengimpor dari Negara lain. Beberapa industri juga belum memiliki alat pengolah limbah. Terbatasnya teknologi menyebabkan Emisi Karbon yang dihasilkan Indonesia meningkat drastis. Pada tahun 2011 Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai Negara pernghasil emisi karbon tertinggi dunia.
Selain industri ada tiga faktor utama yang dapat menyebabkan emisi karbon. Yaitu Kebakaran hutan, kotoran ternak, dan transportasi.
Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan rata-rata sekitar 500 hektare. Di Kalimantan hutan dibakar untuk dijadikan perkebunan.
Hutan gundul sebenarnya tidak menghasilkan emisi karbon, namun jika ratusan pohon ditebang dan benihnya dibakar lalu siapa yang akan menyerap karbon dioksida. Mereka tidak memikirkan dampak yang akan dihasilkan. Puluhan liter CO2 tersebar di atmosfer yang akan mengakibatkan efek rumah kaca. Sinar ultraviolet yang sampai dipermukaan bumi tidak dapat dipantulkan ke luar angkasa.
Hewan ternak, siapa yang menyangka ternyata kotoran hewan-hewan ini merupakan salah satu penghasil emisi karbon terbesar dunia. Tidak kurang dari 100 milyar ton metana dihasilkan sektor peternakan setiap tahunnya.
Sapi akan melepaskan metana dari dalam perutnya selama proses mencerna makanan. Seekor sapi menghasilkan 300 hingga 500 liter gas methana setiap hari. Dan miliaran hewan-hewan ternak di seluruh dunia setiap harinya melakukan proses ini yang akhirnya menjadi polutan gas rumah kaca.
Transportasi merupakan bagian yang sangat bernilai dan diperlukan saat ini dalam mendukung perkembangan kemajuan kota-kota besar di indonesia, namun pada sisi lain peningkatan ini juga sekaligus akan membawa efek negatif yang tidak diinginkan. Emisi Karbon adalah salah satu dampak dari penggunaan transportasi.
Setiap liter bahan bakar yang dibakar akan menghasilkan sekitar 100 gram Karbon Monoksida dan berbagai senyawa lainnya termasuk senyawa sulfur. Jika di Indonesia setiap jamnya ada 20 juta kendaraan yang beroperasi berarti Indonesia sudah menyumbang sekitar 2 juta kg karbon monoksida.
Untuk mengurangi emisi karbon akibat kebakaran hutan pemerintah harus mengadakan kegiatan penanaman seribu pohon. Selain mengadakan kegiatan itu pemerintah juga harus memberikan sanksi tegas untuk siapa saja yang sengaja membakar hutan.
Pakar dari Universitas Bonn, Alexander Schmithausen melakukan percobaan. Hasilnya, bahwa sapi yang diberi pakan berbasis jagung memproduksi lebih sedikit emisi methana. Jenis pakan ternak yang relatif kaya pati diolah secara berbeda di perut besar serta memproduksi lebih sedikit emisi methana. Dibandingkan dengan rumput, pakan ini berstruktur kasar dan kaya serat. Kadar serat yang lebih tinggi mengakibatkan lambung sapi memproduksi lebih banyak gas methana. Untuk itu peternak sebaiknya mengganti pakan ternak mereka dengan pakan berbasis jagung.
Permintaan kendaraan bermotor di Indonesia selalu diangka 6-7juta setiap tahun. Pemerintah harus segera mengambil tindakan agar emisi karbon bisa dikendalikan. Pemerintah dapat menaikkan pajak kendaraan lima kali lipat agar masyarakat berpikir ulang untuk membeli kendaraan bermotor. Selain itu pemerintah juga dapat memberikan sanksi berupa denda untuk setiap rumah yang memiliki motor lebih dari dua.
Selain menaikkan harga pajak juga memberikan sanksi pemerintah juga harus menambah sarana tranportasi umum. Fasilitas dan keamanan di transportasi umun juga harus diperbaiki agar masyarrakat mau meninggalkan kendaraan pribadi mereka.
Peningkatan emisi karbon di Indonesia kini turun 19% meskipun begitu Indonesia masih masuk dalam 10 negara penghasil emisi karbon tertinggi dunia. Pemerintah dan masyarakat harus saling bekerjasama untuk merunkan prestasi tersebut. Sosialisasi untuk menjaga lingkungan perlu diadakan agar masyarakat lebih menghargai manfaat alam. Jika masyarakat dan pemerintah tidak bertindak lalu siapa lagi?
https://alamendah.org/…/indonesia-penghasil-emisi-karbon-t…/
http://reflectionofgreen.blogspot.co.id/…/emisi-metana-terb… (24-1-2017)
http://www.dw.com/…/mengurangi-methana-di-petern…/a-17808255 (24-1-2017)
http://reflectionofgreen.blogspot.co.id/…/emisi-metana-terb… (24-1-2017)
http://www.dw.com/…/mengurangi-methana-di-petern…/a-17808255 (24-1-2017)
Written to fulfill the 6th semester assignment.